CP foundation main website
 
 
 
 

<< Seminar List

Seni Melawan Sepi
By Mahatmanta

1.
Saya tinggal di suatu tempat yang untuk menuliskan alamatnya haruslah dengan menyevut nama tiga kota sekaligus: jalan wonosari, kabupaten bantul, yogyakarta. Wonosari, bantul dan yogyakarta adalah tiga kota yang harus hadir untuk menyebut identitas lokasi di mana saya tinggal. Bila menyebut dengan nama perumahan di mana saya tinggal, orang tidak mengenalnya. Kecuali dari papan nama di gerbang perumahan ketika kita kebetulan lewat. Dengan demikian, saya harus menetapkan tempat saya dengan menyebut ‘yang bukan’ tempat saya. Penyebutan alamat suatu tempat memang relasional. Dan dalam hal alamat tempat tinggal saya tadi rlasi itu hirakhis: yang terdahulu tertampung dalam yang berikutnya.

2.
Apakah kota? Apakah ‘yang bukan’ kota?
Kembali ke tempat tinggal saya yang berjarak sekitar 8 kilometer bila diukur dari pusat kota yogyakarta, sekarang tidak dikenal istilah ‘nglaju’ dan ‘penglaju’ bagi pelakunya. Dulu 25 tahun silaim, istilah padanan kata ‘commuting’ dan ‘commuter’ itu masih terdengar untuk menyebut perpindahan dari wilayah pinggiran kota ke pusat kota.
Sebagai gantinya, sekarang dikatakan bahwa pusat kota yogya itu ‘jauh’ dari tempat tinggal saya, dan sebaliknya. Artinya, perumahan saya itu secara fungsional adalah sekadar ‘ekstensi’ atau perluasan dari kota yogyakarta. Bukan entitas bulat yang mandiri yang di dalamnya dijalankan komunikasi dengan orang-orang sekitarnya. Sudah menjadi seperti ‘bagian dari’ tempat lain atau kota lain.
Bila sebuah kota dibangun oleh modus komunikasi yang dilangsungkan oleh para warganya, maka orang-orang seperumahan denga saya yang semuanya adalah ‘penglaju’ ini secara fungsional adalah warga kota yogya, sala, magelang atau kota-kota lain sekitar. Tiap hari dari pagi hingga petang kami adalah bagian fungsional dari kota-kota tadi, sedangkan perumahan tempat tinggal kami adalah ranah privat yang kami singgahi hanya di petang dan malam hari atau di hari-hari libur saja.
Liburan? Rekreasi? Untuk berekreasi pun kami menyerbu kota “induk” kami itu. Bukan ke hutan atau gunung yang sepi (mungkin di kota yang hingar bingar itu kami lebih bisa menyepi dalam arti menghilang tanpa dikenlai).
Bila diperiksa, memang 80% dari warga perumahan kami tercatat dalam KTPnya sebagai warga kota lain. Jadi, perumahan tempat mereka tinggal di petang dan malam hari itu hanyalah semacam persinggahan yang tidak bisa memaksa mereka tertambat di tempat. Di pagi hari, mereka menghambur ke berbagai tempat di mana mereka terserap dalam jaringan moda produksi urban ke berbagai kota di atas. Perumahan seperti ini memang mengandung heterogenitas yang tingi dari penghuninya. Dan yang menyamakan mereka adalah tingkat pendapatan dan tingkat aksesibilitas ke tempat kerjanya.
Adapun pusat kota, tinggalah ia sebagai gugusan bangunan dan ruang-ruang simbolik yang hanya berfungsi ketika kami sebagai pengguna menggunakannya. Kota seperti ini ibarat busa atau sponge yang permebel,yakni struktur berongga yang bisa menyerap dan sebaliknya memompa keluar air dalam badannya.
Jalanan di yogya di siang hari adalah berupa jaringan jalan macet satu arah, tapi di malan hari setelah para penglaju “dipompa” keluar jaringan jalan itu bisa dilalui dalam dua arah. Bila di siang hari kita dimungkinkan untuk melihat wajah bangunan-bangunan dengan lebih lengkap, bila di siang hari kita hanya melihat punggung dan bokong dengan lengkap. Bila di siang hari kita masih berharap akan berpapasan dan melihat wajah-wajah. Bila di siang hari kami hanya bisa “berjalan” lurus saja ke depan, maka di malam hari kami bisa “jalan-jalan”. Jadi, yogyakarta menyajikan kualitasnya dengan lebih lengkap justru di malam hari, dan itu tidak lebih lama dari sepertiga hari.

3.
Kisah seperti di atas sebenarnya sudah jamak dijumpai di banyak tempat: kota-kota modern ‘menitipkan’ warganya ke daerah-daerah sekitarnya, ke kantong-kantong atau kapsul yang tidak berinteraksi dengan penduduk setempat yang sudah di sana sebelum kedatangan mereka. Dan pada waktunya mereka disedot ke pusat kota. Kota dan pusat kota diisi oleh “orang-orang asing” yang tidak merawat, peduli, menjagai serta tinggal di dalamnya. Mereka hanya disedot dan dikeluarkan kembali pada waktunya.
(meskipun demikian, yang menakjubkan dari perkembangan kota-kota di Indonesia, adalah pengembangan horizontal bak martabak yang sedemikian ekstensifnya itu berlangsung seperti tidak punya tepi, menjalar dn memangsai kota-kota kecil di sekitarnya untuk dijadikan satelit pendukungnya).
Pengembangan vertikal seperti rumah susun di pusat kota sebagai ganti pengembangan horizontal rasanya juga tidak bisa menghindar dari produksi “kapsul-kapsul” isolasi seperti ini. Bila perumahan kami membutuhkan pagar untuk simbol isolasi kami dari penduduk setempat, maka lapisan lantai yang disusun bertingkat-tingkat dan dinding-dinding rumah susun itu juga menghasilkan efek isolasi serupa. (pagar itu memang simbolik, tidak secara utiliter menjagai kami dari “serangan” pihak lain, yang memang tidak pernah terjadi.
Kantong-kantong isolasi atau kapsul tadi hanyalah konsekuensi dari pilihan komunikasi yang membuat orang mengurbankan kontak-kontak interpersonalnya. Jadi, kalau harus berkata-kata tentang kesepian, maka kesepian tinggal di dalam kapsul itu pun dihayati oleh orang-orang kota yang tinggal di perumahan yang jauhnya dari pusat kota masih 8 km lagi itu. Kota-kota modern memang begitulah: membikin setiap titik sama saja, termasuk kesepian yang ditaburnya.
Tapi, apa yang kita maksudkan dengan kesepian? Bukankah kita masih tetap bisa berkomunikasi dengan menggunakan sarana komunikasi modern yang tidak melibatkan perjumpaan antar tubuh? Atau itukah yang kita harapka: perjumpaan langsung tubuh dengan tubuh tanpa perantara (media)?.

4.
Kesepian mungkin ada hubungannya dengan isolasi, dengan terbatasnya komunikasi. Dan disain kota-kota modern (entah kota kecil entah kota besar) punya kontribusi besar dalam menyiptakan komunikasi antar warganya menjadi komunikasi yang terbatas segi-seginya.
Munculnya perkampungan di awal modernisasi kota-kota jawa juga bisa menjelaskan mengenai adanya kebutuhan akan koneksi dengan masa lalunya di perdesaan yang kemudian dibawa masuk kota. Mereka tingla berdekatan bersama kerabat dan saudara-saudara sedesa, tapi modus produksinya sudah bukan pertanian lagi. Tidak ada lagi aliran air yang menyatukan persawahan mereka dan yang menjamin kerukunan antar mereka. Di kampung-kampung dalam kota itu koalitas permukiman perdesaan dipanggil dan dihadirkan lagi. Dibutuhkan ritual baru antar manusia kota dengan kota tempat ia tinggal